SMKSMUHAMMADIYAH-HGLS.SCH.ID – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nurlaela (37), seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam insiden tabrakan antara KRL Commuter Line dan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek.
Peristiwa nahas tersebut terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam. Kepergian almarhumah meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan kerabatnya.
Di kediamannya yang beralamat di Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, suasana takziah terlihat sejak kemarin. Sejumlah keluarga dan kerabat terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Paman korban, Mulyadi, menceritakan kondisi jenazah keponakannya saat tiba di rumah duka pada Selasa. Ia menuturkan bahwa jenazah Nurlaela dalam keadaan utuh, meskipun terdapat luka patah kaki dan dugaan luka dalam.
“Alhamdulillah, kondisi tubuhnya utuh, tidak ada luka yang mengkhawatirkan. Cuma kakinya patah dan mungkin ada luka dalam,” ujar Mulyadi dengan nada pilu.
Mulyadi menambahkan bahwa jenazah almarhumah baru tiba di rumah duka sekitar pukul 03.00 WIB. Kedatangan jenazah ini merupakan puncak dari upaya keluarga yang telah melakukan pencarian sejak Senin malam.
“Jam satu kami baru ketemu, terus koordinasi dan jemput. Sampai rumah jam tiga pagi,” jelasnya.
Baca juga di sini: Menjelang Hari Pendidikan Nasional 2026, Tiga Ungkapan Guru tentang TPG
Kecemasan sempat melanda keluarga ketika Nurlaela tidak kunjung pulang ke rumah. Telepon genggamnya pun tidak dapat dihubungi, hingga akhirnya ada pihak lain yang mengangkat dan memberikan informasi bahwa ponsel korban telah ditemukan.
Namun, kabar tersebut justru menambah kekhawatiran karena keberadaan Nurlaela sendiri belum diketahui secara pasti. “Kami sudah khawatir karena belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat orang lain dari pihak berwenang bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana,” ungkap Mulyadi.
Nurlaela dikenal sebagai sosok yang berdedikasi dalam pekerjaannya. Sehari-hari, ia mengabdikan diri sebagai guru PNS di SD Pejagan 11, Pulogebang, Jakarta Timur. Rutinitas hariannya adalah menggunakan moda transportasi KRL untuk pergi dan pulang kerja.
“Dia setiap hari memang naik KRL, pagi dan sore. Memang kerjanya mengajar di sana,” terang Mulyadi.
Di kalangan rekan kerja dan keluarga, Nurlaela dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras dan cenderung pendiam. Prestasi akademisnya patut dibanggakan, terbukti dari kelulusannya program magister di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) hanya tiga bulan sebelum insiden tragis ini.
“Dia pekerja yang ulet, enggak banyak bicara, benar-benar kerja orangnya. Dia baru lulus S2 tiga bulan lalu di UNJ,” tuturnya.
Kepergian Nurlaela meninggalkan duka yang mendalam, terutama bagi buah hatinya yang kini duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Jenazah almarhumah telah dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, tidak jauh dari kediaman duka.

Leave a Reply