SMKSMUHAMMADIYAH-HGLS.SCH.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) gencar mendorong peran perguruan tinggi guna mewujudkan target nol persen kemiskinan ekstrem pada tahun 2026.
Upaya ini dilakukan melalui penguatan berbagai aspek, termasuk pendidikan, riset, dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen ini sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025, yang menekankan pentingnya evaluasi komprehensif terhadap implementasi kebijakan pengentasan kemiskinan ekstrem.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), A. Muhaimin Iskandar, menegaskan perlunya orkestrasi yang solid antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam menangani isu kemiskinan ekstrem.
Hal ini merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta tindak lanjut dari Inpres Nomor 8 Tahun 2025.
Target pemerintah sangat ambisius, yaitu mencapai nol persen kemiskinan ekstrem pada tahun 2026. Selain itu, tingkat kemiskinan nasional juga ditargetkan turun menjadi 5 persen pada tahun 2029.
Menko PMK Muhaimin Iskandar menyampaikan optimisme terkait capaian penurunan kemiskinan ekstrem. Ia menyatakan bahwa angka kemiskinan ekstrem telah berhasil turun dari 1,26% pada Maret 2024 menjadi 0,78% pada September 2025.
“Alhamdulillah kemiskinan ekstrem berhasil turun. Dari 1,26% pada Maret 2024 menjadi 0.78% pada September 2025. Sekitar 0.48% penduduk miskin ekstrem alhamdulillah telah naik kelas,” jelas Menko Muhaimin pada Rabu, 29 April 2026.
Meskipun menunjukkan tren positif, Menko PMK mengakui masih ada tantangan dalam pelaksanaan Inpres Nomor 8 Tahun 2025. Tercatat lebih dari 774 ribu keluarga di desil 1 belum terjangkau program penanganan kemiskinan.
Wilayah seperti Kulonprogo, Garut, Bogor, Cirebon, dan Cianjur menjadi fokus perhatian karena masih tingginya jumlah keluarga yang belum tersentuh program.
Selain itu, masih terdapat 8,1 persen keluarga yang belum menerima bantuan sama sekali. Angka ini diperparah dengan 60,2 persen keluarga di desil 1 yang baru menerima satu hingga dua program bantuan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, turut memaparkan kontribusi Kemdiktisaintek dalam upaya pengentasan kemiskinan. Kontribusi tersebut difokuskan pada penguatan tridarma perguruan tinggi.
Baca juga di sini: Delapan Ruang Kelas MTs dan MA 12 Rabiul Awwal Purwasari Karawang Membutuhkan Perhatian Mendesak
“Kemdiktisaintek senantiasa mengarahkan program-program tridarma perguruan tinggi di setiap kampus untuk menjadi instrumen implementasi Astacita Presiden, terutama dalam pengentasan kemiskinan hingga mencapai angka 0,” ujar Wamen Fauzan.
Ia juga menekankan pentingnya perluasan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dari kalangan kurang mampu. Berbagai skema bantuan dirancang untuk memfasilitasi hal ini.
“Kami percaya bahwa pendidikan adalah cara untuk mengubah taraf hidup lebih baik. Oleh karena itu, Kemdiktisaintek menekankan perluasan akses pendidikan tinggi bagi kelompok kurang mampu, melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), serta bantuan pembebasan biaya bagi keluarga prasejahtera,” jelas Wamen Fauzan.
Hingga tahun 2025, tercatat lebih dari 1 juta mahasiswa telah menerima manfaat dari program KIP Kuliah, menunjukkan peningkatan penerima secara signifikan.
Di samping akses pendidikan, pemerintah juga berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Program-program seperti Sekolah Unggul Garuda, Beasiswa Garuda, dan program pra-doktoral bagi dosen di wilayah afirmasi, termasuk daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), terus diperkuat.
Dalam bidang riset dan inovasi, Kemdiktisaintek mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Program riset berdampak menjadi salah satu wadah untuk mewujudkan sinergi ini.
Berbagai inovasi telah dihasilkan, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian hingga pengembangan pangan lokal. Inovasi ini bertujuan untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan dan penurunan angka stunting di daerah prioritas.
Salah satu contoh nyata adalah konsorsium perguruan tinggi yang aktif di Nusa Tenggara Timur, yang berfokus pada solusi inovatif untuk masalah-masalah lokal.
Kampus juga dilibatkan secara aktif dalam program pemberdayaan masyarakat. Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik dan pendampingan di wilayah 3T serta daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem, mahasiswa berkontribusi langsung pada pembangunan masyarakat.
Melalui berbagai inisiatif dan kolaborasi ini, Kemdiktisaintek menegaskan kembali komitmennya untuk terus memperkuat peran strategis perguruan tinggi dalam mempercepat tercapainya target pengentasan kemiskinan.

Leave a Reply