SMKSMUHAMMADIYAH-HGLS.SCH.ID – Di Dusun Pisangan, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, berdiri SDN Cemarajaya III. Sekolah ini, yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk menimba ilmu, kini justru menunjukkan kondisi bangunan yang memprihatinkan.
Bangunan sekolah tersebut terlihat sangat tua dan rapuh. Tiang-tiang kayu yang menopang atap tampak sudah lapuk dimakan usia. Dinding-dindingnya dipenuhi retakan, dan cat yang memudar menambah kesan kumuh. Atap yang bolong di beberapa bagian menjadi pemandangan sehari-hari.
Kondisi ini tentu saja berdampak langsung pada aktivitas belajar mengajar. Ketika hujan turun, air akan merembes masuk melalui atap yang bocor, mengganggu konsentrasi siswa. Sebaliknya, saat cuaca panas terik, ruangan terasa sangat menyengat karena kurangnya ventilasi yang memadai.
Meskipun dalam kondisi yang tidak ideal, sekitar 80 siswa tetap bersemangat untuk belajar di ruang-ruang kelas tersebut. Salah seorang siswi bernama Saqila mengaku sering merasa takut saat berada di dalam kelas karena khawatir akan kondisi bangunan yang rapuh.
Warga sekitar pun turut merasa heran melihat kondisi sekolah yang seolah dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun. Mereka mempertanyakan perhatian yang diberikan terhadap fasilitas pendidikan dasar ini.
Keadaan menjadi semakin disorot ketika papan informasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2026 menunjukkan anggaran sebesar Rp72,8 juta. Namun, yang lebih mengkhawatirkan, saldo akhir tercatat Rp0, yang berarti seluruh anggaran tersebut telah terserap habis.
Baca juga: Nadiem Makarim Ajukan Tahanan Rumah, Hakim Kabulkan
Lebih lanjut, data tersebut juga menunjukkan bahwa pos untuk pemeliharaan sarana dan prasarana, yang seharusnya dialokasikan lebih dari Rp6 juta, tercatat memiliki realisasi sebesar Rp0 rupiah. Hal ini seperti dikutip dari laporan Aleksa.
Secara ringkas, kondisi bangunan SDN Cemarajaya III dapat digambarkan sebagai berikut:
- Gedung rusak berat.
- Atap bocor.
- Tembok retak.
- Kayu lapuk.
- Anggaran pemeliharaan: Rp0.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan menggelitik, seolah-olah bangunan diminta untuk tetap kuat dengan sendirinya tanpa adanya perawatan.
Pihak sekolah sendiri menyatakan bahwa proposal perbaikan bangunan telah diajukan. Sementara itu, pihak Koordinator Wilayah (Korwil) menyampaikan bahwa sekolah tersebut rencananya akan digabungkan (merger) dan direlokasi.
Namun, sebuah pertanyaan sederhana namun mendesak masih menggantung di udara pesisir Cibuaya. Jika memang ada rencana relokasi, apakah 80 siswa yang masih belajar di bangunan yang memprihatinkan ini harus menunggu hingga bangunannya roboh?

Leave a Reply