SMKSMUHAMMADIYAH-HGLS.SCH.ID – Di Desa Wanguk, sebuah tradisi unik bernama “Botram Nasi Biryani” telah berhasil merajut kebersamaan dan memecah belah sekat sosial di antara warganya. Acara yang berlangsung pada Senin, 6 Juli 2026, ini tidak hanya menghadirkan hidangan lezat, tetapi juga mempererat tali silaturahmi yang terjalin erat.
Aroma rempah khas Timur Tengah yang berpadu dengan kehangatan tradisi Jawa terasa begitu kental menyelimuti udara Desa Wanguk pada hari yang istimewa itu. Botram Nasi Biryani ini bukan sekadar kegiatan makan bersama, melainkan sebuah perayaan kebersamaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Nasi Biryani, hidangan yang identik dengan cita rasa Timur Tengah, diadopsi dan diadaptasi dengan sentuhan lokal. Proses memasaknya pun menjadi momen penting, di mana para ibu rumah tangga dari berbagai latar belakang berkumpul, berbagi resep, dan saling membantu dalam menyiapkan bumbu serta memasak nasi yang kaya rasa ini.
Kehadiran nasi biryani dalam acara botram ini memberikan nuansa berbeda. Biasanya, botram identik dengan hidangan tradisional Sunda atau Jawa seperti nasi timbel, lalapan, dan sambal. Namun, dengan hadirnya nasi biryani, tradisi ini menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan masyarakat Desa Wanguk untuk berinovasi tanpa melupakan akar budayanya.
Lebih dari sekadar kuliner, Botram Nasi Biryani menjadi sarana efektif untuk membangun interaksi sosial. Dalam suasana santai dan akrab, warga dari berbagai usia, profesi, dan status ekonomi duduk bersama, berbagi cerita, dan tertawa lepas. Hal ini secara alami memecah kebekuan dan membangun pemahaman satu sama lain.
Kepala Desa Wanguk, Bapak Ahmad Santoso, mengungkapkan rasa bangganya atas inisiatif warga yang berhasil menciptakan kegiatan positif seperti ini. “Botram Nasi Biryani ini adalah bukti nyata bahwa kebersamaan dan gotong royong masih sangat kuat di desa kita. Kita bisa melihat bagaimana ibu-ibu saling bahu membahu dalam memasak, bapak-bapak membantu menyiapkan tempat, dan anak-anak ikut serta dalam suasana kegembiraan,” ujarnya.
Beliau menambahkan bahwa kegiatan semacam ini sangat penting untuk menjaga harmoni sosial, terutama di tengah arus modernisasi yang terkadang dapat menimbulkan jarak antarindividu. “Dengan berkumpul seperti ini, kita bisa saling mengenal lebih dekat, memahami kesulitan masing-masing, dan memberikan dukungan. Nasi biryani ini hanya media, yang terpenting adalah semangat kebersamaannya,” tegas Bapak Ahmad.
Tradisi botram sendiri bukanlah hal baru di Jawa Barat. Secara etimologis, “botram” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “makan bersama”. Namun, di Desa Wanguk, tradisi botram ini diberi sentuhan unik dengan menghadirkan nasi biryani, menunjukkan akulturasi budaya yang menarik.
Para peserta botram terlihat sangat antusias. Ibu Siti, salah seorang warga yang ikut serta dalam memasak nasi biryani, menceritakan pengalamannya. “Awalnya agak deg-degan juga, takut rasanya tidak pas. Tapi karena dibantu sama ibu-ibu lain yang lebih berpengalaman, akhirnya jadi juga nasi biryani yang enak. Senang sekali bisa masak bareng dan nanti makan bareng,” tuturnya dengan senyum merekah.
Selain nasi biryani, hidangan pelengkap lainnya seperti ayam goreng, telur dadar, kerupuk, dan aneka sambal juga turut disajikan. Semua hidangan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat, di mana setiap keluarga berkontribusi sesuai kemampuan mereka.
Acara botram ini tidak hanya dihadiri oleh warga Desa Wanguk saja, tetapi juga mengundang tokoh masyarakat setempat dan perwakilan dari desa tetangga. Hal ini semakin memperluas jangkauan silaturahmi dan mempererat hubungan antarwilayah.
Botram Nasi Biryani di Desa Wanguk ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk menggali dan mengembangkan tradisi lokal yang dapat memperkuat rasa kebersamaan. Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, terbukti bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang untuk bersatu dan menciptakan keharmonisan.
Semangat gotong royong dan kekeluargaan yang ditunjukkan oleh warga Desa Wanguk dalam acara Botram Nasi Biryani ini adalah cerminan dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kebersamaan yang tak terpisahkan ini diharapkan akan terus lestari dan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

Leave a Reply