SMKSMUHAMMADIYAH-HGLS.SCH.ID – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Ledia Hanifa Amaliah, menekankan krusialnya penanaman pendidikan karakter sejak usia dini.
Hal ini disampaikannya sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap praktik kecurangan, termasuk yang mungkin terjadi dalam penyelenggaraan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT).
Beliau menggarisbawahi bahwa pembentukan karakter oleh orang tua dan guru merupakan investasi fundamental, bukan sekadar urusan gengsi. Ini adalah tentang membekali generasi muda dengan ilmu yang akan membawa keberkahan di masa depan.
Pernyataan Ledia Hanifa ini muncul sebagai respons atas temuan adanya praktik kecurangan yang dilakukan oleh sejumlah peserta dalam pelaksanaan UTBK SNBT tahun 2026 di berbagai lokasi ujian.
Menurut pandangannya, praktik kecurangan tersebut mencerminkan adanya persoalan mendasar terkait niat dan integritas para peserta. Ia menegaskan bahwa keberhasilan yang diraih melalui cara-cara yang tidak jujur pada akhirnya tidak akan memberikan manfaat yang hakiki.
“Kalau memang niatnya sudah tidak benar, pasti akan jadi tidak benar dan ilmunya juga tidak berkah,” ujar Ledia Hanifa, menekankan konsekuensi dari tindakan tidak jujur.
Lebih lanjut, Ledia Hanifa juga menyoroti bagaimana perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut adanya sistem pengawasan yang lebih ketat. Penyelenggara ujian, menurutnya, harus mampu mengantisipasi berbagai modus kecurangan yang mungkin muncul, termasuk potensi pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Kita perlu mendorong supaya mereka mau melakukan pengawasan sejak awal dan juga harus diantisipasi karena dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, hanya sekadar difoto soal bisa dijawab oleh AI,” jelasnya.
Meskipun demikian, Ledia Hanifa tetap berpegang pada prinsip bahwa kecanggihan AI tidak dapat serta-merta menggantikan kemampuan asli dari seorang peserta. Di samping penguatan pengawasan dari sisi teknis, ia kembali menegaskan pentingnya peran sentral keluarga dan institusi pendidikan dalam membangun karakter serta menanamkan nilai-nilai kejujuran.
“Itu jadi bagian yang sangat penting harus ditumbuhkan sejak awal, pembangunan karakter oleh orang tua, oleh guru, bahwa bukan bab gengsi, ini bab ilmu untuk keberkahan di masa yang akan datang,” tuturnya kembali, mengulang pentingnya fondasi karakter.
Ia juga mengimbau kepada pihak perguruan tinggi dan penyelenggara UTBK untuk mempersiapkan sistem keamanan yang lebih mumpuni. Hal ini termasuk kajian ulang terhadap kebijakan mengenai barang bawaan peserta, seperti telepon genggam dan perangkat teknologi lainnya yang berpotensi disalahgunakan.
Baca juga di sini: Ujian TKA SD 2026 Lancar Meski Ada Tantangan
Menurut Ledia Hanifa, seberapapun canggihnya teknologi yang digunakan, akar persoalan utama tetap berada pada niat dan integritas peserta itu sendiri. Kepatuhan pada prinsip kejujuran dan keadilan dalam mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi adalah kunci utamanya.

Leave a Reply